Dampak Pandemi Covid-19 Seragam Sekolah Jadi Kusam

Agustus 9, 2021 - Armada

Oleh: Abel S Usmanji

(Pemerhati Anak Didik)

Pastinya kita berharap, supaya Pandemi Corona Virus Disease 19 (Covid-) segera berakhir. Karena dampak yang ditimbulkan mempora-porandakan berbagai segi kehidupan.

Tidak hanya pada dunia kesehatan dan ekonomi, dunia pendidikanpun sangat berpengaruh yang menyebabkan kwalitas pendidikan sangat anjlok akibat tidak adanya pembelajaran tatap muka antara pendidik dan anak didik yang merugikan prestasi peserta didik itu sendiri meski sudah disiasati dengan belajar daring.

Sistem pembelajaran daring atau jarak jauh tidak masalah bagi orang tua mampu, karena semua kebutuhan anaknya bisa mereka atasi. Tapi bagaimana dengan berkemampuan ekonomi pas-pasan di tengah badai Covid-19?

Tentu hati mereka semakin gusar, karena harus menyediakan gudget (Hand Phone) Anroid, kuota data, dan pakaian seragam sekolah yang membuat pusing tujuh keliling orang tua yang berpenghasilan kecil alias tidak mampu.

Pertanyaanya, apakah kondisi tersebut harus dibiarkan berlalu? Tentu tidak, harus pemerintahlah yang mengantisipasi dan menanggulangi semua, paling tidak, pihak sekolah terutama pengawas harus aktif turun melaksanakan fungsinya.

Kwalitas pembelajaran di masa pandemi yang bertopang pada pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak boleh mengalami stagnasi apalagi penurunan.

Dalam hal ini,

pengawas sekolah memiliki peran penting untuk memastikan kwalitas pembelajaran bisa tetap terjaga meski dilakukan di tengah pandemi.

Terkait hal ini, pengawas dan pengelola sekolah juga harus beradaptasi dan mengubah strategi dalam melakukan supervisi akademik.

Pengawas dituntut untuk mampu mendesain pada situasi nontatap muka. Hal ini dilakukan, agar kesinambungan kontrol mutu sekolah terus bergulir, sehingga tak ada alasan untuk tidak melakukan supervisi.

Supervisi yang urgen dilakukan pengawas adalah menugaskan para guru bidang studi peka terhadap kejanggalan anak didiknya, lalu mereka door to door mengunjungi murid-muridnya yang ada masalah dengan sistem PJJ saat ini, supaya diketahui bahwa murid tersebut, terkendala dengan ketersediaan Hand Phone, yang sedianya pakaian seragam sekolah yang diharuskan dibeli melalui sekolah-sekolah pilihan siswa bisa digantikan atau ditukar dengan pengadaan Hand Phone sesuai pembelajaran yang dilakukan seperti saat ini di banyak sekolah-sekolah, betapa tidak, pakaian yang dibayar dengar harga fantastis kini tinggal bahkan jadi kusam dalam lipatannya, lantaran tidak pernah tersentuh (terpakai) selama beberapa tahun terakhir ini.

Kata kuncinya para tenaga didik jangan berdiam di rumah menunggu intruksi atau keluhan siswa-siswinya, tapi harus mengadakan kunjungan ke anak didiknya agar terjalin komunikasi dan saling kenal antara pendidik dengan yang terdidik.*