Penyaluran BPNT di Kab. Wajo Diduga tidak Tepat Sasaran

Juni 14, 2021 - Armada

Sengkang, News Armada.com –  Terungkap penyelewengan penyaluran bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) untuk masyarakat Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel) sebagai bentuk dampak dari covid19 diduga tidak tepat sasaran dan terjadi pengurangan dari semestinya diterimah oleh Keluarga Peneriam Manfaat (KPM) Rp. 200.000,- untuk setiap Kepala Keluarga (KK) dalam bentuk sembako.

Aktivis Lembaga Badan Pemantau dan Kebijakan Publik (BPKP) Wajo dan LSM Kibar Indonesia disalah satu warkop kota Sengkang mengungkapkan hal tersebut didepan awak media ini.

Ketua BPKP Wajo Andi Sumitro dan Andi Syamsu Alam dari Kibar Indonesia mengatakan, berdasarkan beberapa sampel penelusuran kebeberapa penerimah bantun tersebut di desa – desa Kabupaten Wajo, itu adanya indikasi yang ditemukan dilapangan kalau bantuan yang seharusya diterimah sejumlah Rp. 200.000,- itu diduga tidak sesuai luas terjadi penyunatan harga.

“Barang atau paket sembako yang terimah warga itu tidak sesuai dengan yang seharusnya yang jumlah seharusnya senilai Rp. 200.000,- dalam bentuk sembako itu hanya diberikan senilai Rp. 170.000,- atau ada kekurangan sekitar Rp. 30 ribuan,” ketusnya.

Lanjutnya mengatakan kalau, BPKP Wajo dan Kibar Indonesia berharap agar ini bisa diusut tuntas oleh aparat penegak hukum baik kepolisian dan kejaksaan, pasalnya ini sudah masuk indikasi korupsi dan pelanggaran hukum.

Korda Bansos Kabupaten Wajo, Muh Rusdi yang dihubungi untuk meminta tanggapan atau klarifikasi serta komentar berkaitan dengan bidang sebagai koordinator wilayah Kabupaten Wajo untuk pendataan dan penyaluran bantuan tersebut hingga saat ini belum berhasil ditemui dan juga soal hal berkaitan dengan adanya klarifikasi panggilan untuk dimintai keterangan di pihak Krimsus Polda Sulsel.

Sekedar diketahui kalau program bantuan sosial ini yang biasanya penyaluran itu melalui tenaga pendamping Dinsos dalam hal ini TKSK dan modus ini bisa terjadi
kalau oknum TKSK sebagai eksekuting dalam mengatur  jumlah bahan pokok yang akan di distribusikan tidak sesuai dengan pemberian sembako dengan nilai yang seharusnya diterimah warga penerimah.

Apalagi kalau tidak mencantumkan rincian barang yg diterima oleh penerima bantuan dan disini yang biasanya dijadikan modus dalam selisih harga yang seharusnya diberikan.Peranan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kemasyarakatan (TKSK) di 14 kecamatan di Kabupaten Wajo untuk penyaluran bantuan ini, perlu dicermati dan dievaluasi.

Setidaknya, ada tujuh jenis bantuan dari pemerintah yang diharapkan dapat meringankan beban masyarakat di masa pandemi ini,  yakni Bantuan Sosial Tunai (BST), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), dan listrik gratis.

Data yang dihimpun di Kantor Dinas Sosial, P2KB dan P3A, untuk penyaluran BPNT per Oktober 2020 data bayar di Bank Mandiri sebanyak 18.380 penerima manfaat, sementara data penerima manfaat dari Kemensos RI 26.486, terjadi selisih 8.106.

Untuk tahun 2021 sebanyak 23.000 penerimah dan Maret-April 2021, yang berhasil sukses transfer sebanyak 7.678 dan yang gagal transfer sebanyak 54 KPM untuk program BPNT.

Sebelumnya Kabid Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial P2KB dan P3A , Nur Rahma, menegaskan, setiap penyaluran bantuan harus memegang prinsip 6 T yakni : Tepat sasaran, Tepat jumlah, Tepat harga,
Tepat waktu, Tepat kualitas dan Tepat administrasi. “Jadi prinsip 6T harus benar benar menjadi perhatian dalam penyaluran setiap bantuan,” ujar Nur Rahma.

Sedang H. Ahmad Jahran, Kepala Dinas Sosial P2KB dan P3A Kabupaten Wajo yang baru pernah mengatakn akan mengevaluasi hal tersebut diatas dan akan melakukan pendataan, karena Ia baru sebulan lebih menjabat sebagai Kadis Dinsos dan tentu ini akan kami telusuri dan evaluasi.

📸 Pewarta : Tim Investigasi

✏️ Editor    : Abel S Usmanji