Pasanggrahan Tanete Terkesan Angker

Juni 8, 2021 - Armada

Oleh : Abel S Usmanji

(Penggiat Jurnalistik dan Pemerhati Budaya)

Laki – Laki Berjubah Putih Terkadang Menampakkan Diri.

Adanya cerita berkembang Pasanggrahan Tanete yang berada di Kelurahan Tanete, Kecamatan Bulukkumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel) dibangun oleh Hindia Belanda tahun 1913 dan dirancang oleh arsitektur Cina, pada zaman Hindia Belanda berencana menjadikan sebagai pusat pemerintan Kabupaten Bulukumba yang berlokasi di Kelurahan Tanete, namun berselang beberapa tahun Belanda hijrah ke Kota Kabupaten yaitu Bulukumba akibat cuaca begitu dingin.
Keberadaan Pasanggrahan ini berkisar 30 kilometer dari pusat kota Bulukumba yang awalnya dijaga oleh Pangmammana kemudian dilanjutkan oleh Pangguli dan diteruskan oleh Ismail alias Hamza, bapak dari lima anak ini bercerita cukup panjang mengenai pengalamannya selama 20 tahun menjaga Pasanggrahan Tanete, aroma mistik sering dialami saat hendak menyalakan lampu menjelang magrib. “Waktu-waktu tertentu sering ada bayangan laki-laki berjubah putih masuk kamar mandi dan air bunyi sendiri,” lirih Hamza.
Meskipun bentuk pada bagian utama bangunanan ini dipertahankan, namun sebagian ada juga dirombak pada bagian belakang, terpisah dari bangunan utama. Berawal tiga sisi, kemudia disekat-sekat menjadi enam kamar yang difasilitasi masing-masing kamar mandi dan dapur, bangunan ini juga disewakan Rp 50 ribuan per malam. Meski diakui Ismail jarang ada tamu yang memanfaatkannya lantaran pengunjung parawisata kebanyakan singgah di Tanjung Bira Pasir Putih.
Ismail berkeinginan agar pemerintah pusat maupun kota, yang khususnya pemerintah Kabupaten Bulukumba dapat melirik dan memperhatikan kesejahteraan para penjaga dan perawat tempat-tempat bersejarah, lantaran pengapdian bisa terlaksana dengan baik akibat ada konsep saling berkesinambungan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berperan aktif melestarikan budaya Indonesia tercinta agar tidak punah oleh peradaban zaman.