Dua Puisi Karya “Syahbandy” Asal Bulukumba Menyayat Hati Para Pembaca

Juni 7, 2021 - Armada

“SAJAK PERJUANGAN HIDUP”

Menembus lebatnya padang ilalang

Aku berjalan dibawah pekat sinar matahari yang bertengger dilangit ketujuh

Menempa rezeki hingga di ujung petang ketika sang bulan nampak dengan wujud telanjang

Aku terus bertarung dibalik lika-liku hidup bagai kesatria tanpa pedang

Menerjang ketetapan takdir, mengarungi nasib ketentuan Tuhan

Jubah pasrah melilit di tubuhku telah kusobek dengan belati ikhlas yang terselip dalam batin

Demi tawa anak dan isteri kuarungi jalan hidup di atas permadani kehidupan yang tak berhaluan

Tetesan air mata yang mengalir dipipi

Sejenak membuatku tersentak

Ketika kulihat anak dipangkuan istriku tampak bahagia dimeja makan

Menikmati sepiring nasi berhias butiran garam bak hidangan lezat sajian restoran

PASRAH”

Di bawah bulan tersenyum lesu

Ku teteskan air mata dari jerit hati yang beku

Saat kulihat wajah anakku terlelap berselimut pilu

Mengenggam botol dot tanpa susu

Desah tangis pun mulai pecah

Bernyanyi dibalik gunda hati yang resah

Ketika kutatap senyum anakku mulai menari di panggug gelisah

Sembari ku cacimaki kerasnya hidup yang tiada arah

Di ujung kelam yang mulai rapuh

Kurebahkan tubuhku meski berontak terus mengeluh

Meski kesal terus menjamah, dan amarah pada takdir semakin memburu

Dan dengan jubah pasrah aku berbisik di ujung malam yang semakin telanjang

Tuhan …..

“Jika takdirku terlahir untuk menderita, janganlah engkau sertakan anakku dalam duka”

Pewarta : Hendra